Kamis, 31 Maret 2016

Jangan Terlalu Baik Di Internet

Saat ini Internet fungsinya tidak lagi sekedar mencari Informasi, tapi sebagai wadah untuk bersosial. Banyak yang mulai bikin akunnya di sosial media, ntah itu keperluan untuk menghubungi kerabat yang jauh, teman lama, ataupun sebagai wadah pertunjukan karya. Sosial media tempatnya orang-orang yang ingin mencari jati diri dan pencitraan. Mungkin jika cuma sekedar untuk mencari kerabat yang jauh dan teman lama, rata-rata mereka sudah tau kelakuan kita gimana. Beda hal dengan orang yang ingin mencari jati diri dan pencitraan.

Orang yang berkarya di Internet pasti sudah punya konsep, apa yang mau dibikin dan diperlihatkan. Ketika semua itu telah di share melalui sosial media, bersiaplah menerima resiko seperti kritikan, hujatan, dan yang paling sakit adalah dibenci.  Saya berani bilang kalau berkarya di Internet itu kejam karena dari pengalaman saya berkarya di Internet.

Penyanyi yang sering manggung di media konvensional aja banyak dihujat, apalagi di Internet yang jumlah penggunanya lebih banyak daripada penikmat media konvensional. Dari mana saya dapatkan data itu? ntahlah, pokoknya yang saya ketahui User Internet lebih banyak daripada penikmat media konvensional, karena di internet banyak yang mengaku jarang nonton televisi ataupun baca koran. Tidak ada yang mengaku jarang Internetan di sisi penikmat media konvensional, kan? Bagi yang tidak setuju, anggap saja saya sok tahu.

Dari pengalaman saya berinternet, saya sering menemukan orang yang dibenci karena karya dan pencitraannya. Biasa rasanya jika melihat banyak yang tidak senang dengan karya orang yang (maaf) jelek. Tapi, tidak banyak juga yang dibenci adalah yang memasang pencitraan yang "terlalu baik", kok bisa? dan anehnya, saya pun juga termasuk yang tidak suka dengan orang terlalu baik di Internet. Lho kok bisa? halah!

Saya akan membahas dari sisi pribadi kenapa saya tidak suka dengan pencitraan "terlalu baik" ini. Mohon maaf sebelumnya jika ada yang tidak setuju.

Sudah 6 tahun saya berkarya di Internet dimulai dengan menulis di blog lalu merambah ke desain grafis dan video maker. Saya menemukan banyak orang-orang yang hebat dan ingin sekali belajar ilmu-ilmu yang mereka kuasai. Mereka juga menjadi orang-orang yang inspiratif bagi saya agar tetap terus berkarya. Tak banyak dari mereka ini tidak disukai karena kelakuannya yang tidak pantas. Justru bagi saya, berkarya dengan pencitraan apa adanya lebih baik daripada menunjukkan kita adalah orang "terlalu baik" dengan omongan memotivasi. Mungkin saya orangnya tidak suka dikasih motivasi dalam bentuk omongan, karena hasilnya nggak berpengaruh. Bagi saya, lebih baik berilah motivasi dalam bentuk karya, semakin bagus karya, maka semakin inspiratif juga bagi orang-orang ingin membuatnya.
Motivasi dalam bentuk omongan? Mario teguh udah ada.
Justru dengan pencitraan yang "terlalu baik" maka akan keliahatan "lebih jahat" ketika tidak kuat menghadapi orang-orang yang tidak suka, dan akan berdampak tidak sukanya orang-orang yang sebelumnya menyukaimu (fans). Jika dengan pencitraan apa adanya, maka sudah jelas, bagi yang tidak suka akan menjauhimu dari awal dan tidak ada fans yang menjauh karena sudah suka dengan pencitraan kita sebelumnya.

Ini menurut saya, mau menjadi apa kita di dunia maya. Mau berkarya, berkaryalah yang baik dengan pencitraan yang apa adanya. Jangan sampai menimbulkan drama.

Mau jadi seperti apa kita?

(Gambar Pecitraan dari kompasiana.com)

Minggu, 27 Maret 2016

Pedestrian Jomblo?

Kemarin (27 maret 2016), di deket daerah rumah saya diresmikan tempat rekreasi baru dari proyek pemerintah walikota Jambi. Rasanya senang sekali bisa ada tempat umum yang bagus dilihat oleh mata, dan ada suatu hal yang paling penting oleh sejuta umat yaitu Wi-Fi gratis. Menurut saya, ini tempat rekreasi yang bagus dengan konsep taman yang ada di Kota Jambi. Ada juga yang namanya Taman Remaja, tapi dipikiran orang-orang disana hanyalah "tempat mesum".

Sebelum Pedestrian Jomblo masih dalam pengerjaan, saya kira cuma perbaikan trotoar atau perluas jalan raya. Kuping terasa ramah lingkungan ketika lewat daerah sana, soalnya udah nggak ada lagi yang jualan bandrek dengan musik dugem membahana. Dengan adanya Pedestrian Jomblo tata kota lebih rapi dan enak dilihat,

Ada satu hal yang saya nggak suka dari tempat proyek ini adalah dari segi nama. Kata "Jomblo" lebih dekat ke anak muda, mungkin walikota mempunyai tujuan agar taman pedestrian ini dikunjungi oleh anak-anak muda kota Jambi. Namun sayangnya, nama Jomblo untuk sebuah taman sudah ada di Bandung (Taman Pasupati). Kenapa pemerintahan kota Jambi malah berani memakai nama ini? Bahkan Taman Jomblo yang di bandung juga sudah terkenal dan diberitakan oleh media-media besar.

Walikota harusnya lebih memilih nama yang kesannya original. Seperti jembatan Gentala Arasy yang mempunyai arti Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti. Abdurrahman Sayoeti adalah mantan gubernur jambi pada periode 1989-1999 dan bertempat lahir di daerah seberang. Gentala Arasy memang dibangun di daerah seberang. Filosofi keren serta original.

(Gentala Arasy)

Bagaimana dengan nama Pedestrian Jomblo? jika itu memang tempat rekreasi anak muda, banyak sekali nama-nama dengan filosofi yang keren jika mau dicari. Sudah banyak tempat yang seharusnya disebut dengan nama asli tapi melenceng dan disamakan dengan tempat atau icon kota lain. Seperti misalnya Tanggo Rajo disebut Ancol dan Tugu Angso disebut Monas.

(Tanggo Rajo yang disebut Ancol)

(Tugu Angso yang disebut Monas)
Sedikit percakapan orang Jambi nanti...

A: Dimana kamu? saya tunggu di Taman Jomblo, nih.
B: Lah? ngapain kamu di bandung?
A:.......

Ojek: Mau kemana mas?
Penumpang: Ke Taman Jomblo, mas...
Ojek: Duh, bensin saya nggak cukup ke Bandung, mas!

Mungkin yang baca postingan ini bilang, kenapa, sih, cuma nama saja di protes? harusnya syukuri tempat rekreasi yang nyaman sudah dibangun. 

Halo, bukannya rakyat disebuah daerah menginginkan daerahnya unik dan punya sisi originalitas? tujuan pemerintah juga ingin menarik para wisatawan kan? makanya tempat wisata itu haruslah original. Jangan salah, tempat rekreasi juga salah satu bagian untuk memajukan sebuah daerah, lho. Sayangnya, kita hanya tau menikmatinya, tak peduli dengan pemeliharaan dan tujuannya.

Mohon maaf jika postingan ini bersifat menyinggung. Ini hanyalah sebuah opini, pendapat ada dalam diri masing-masing. Seperti yang saya bilang di awal-awal. saya suka dengan tempat rekreasi Pedestarian Jomblo. Namun agak mengganjal bagi saya dari segi nama. Padahal jika namanya lebih original, mungkin lebih baik. Nama yang original seperti Tugu Angso dan Tanggo Rajo aja masih disebut Ancol dan Monas. Bagaimana dengan yang benar-benar persis seperti ini? hanya Tuhan dan Walikota yang tahu. 

(Gambar Pedestrian Jomblo dari jambi.tribunnews.com)
(Gambar Gentala Arasy dari metrojambi.com)
(Gambar Tanggo Rajo dari jalan2.com)
(Gambar Tugu Angso dari sumatfeet.files.wordpress.com)

Sabtu, 19 Maret 2016

Edisi Nostalgia: Kuliah


Capek rasanya berkali-kali masukin lowongan ke beberapa perusahaan-perusahaan besar. Sampai saat ini, tak ada satu pun perusahaan yang mau memanggil saya. Mungkin karena banyaknya lamaran yang masuk, lamaran saya tidak sempat dilihat atau saya tidak masuk dalam kualifikasi mereka. Masa-masa mencari pekerjaan sangatlah menyakitkan.

Ingin rasanya menikmati masa kuliah lagi...

Di tahun 2010, saya lagi senang-senangnya menikmati kebahagiaan setelah lulus UN (Ujian Nasional). Betapa mengerikannya UN untuk siswa SMA tingkat akhir. Perasaan lega bukan main saya rasakan lihat di mading bahwa nama saya tercantum di daftar kelulusan. Soal nilai? tidak peduli, yang penting saya lulus dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sembari kerepotan mengurus legalisir Ijazah, saya mengikuti beberapa test di perguruan tinggi. salah satunya di perguruan tinggi negeri di daerah saya. Iya, pokoknya yang utama adalah negeri. Padahal saya tidak kepikiran masuk negeri karena jurusannya yang nggak jauh-jauh seperti di sekolah (umum). Masuk perguruan tinggi negeri adalah permintaan orang tua saya. Dan saya pun disuruh untuk mengambil akuntansi.

Akhirnya, harapan orang tua saya tidak terkabul karena saya tidak lulus dari perguruan tinggi negeri. Saya melakukannya dengan sengaja. Semoga orang tua saya tidak membaca postingan ini.

Nasib memilih saya untuk kuliah di jurusan komputer. Perguruan tinggi swasta itu memang jadi target saya sejak dulu. Tempatnya yang bersih, kelasnya pakek AC, dan yang paling penting adalah program studinya menarik perhatian saya yang memang suka pelajaran komputer. Karena ini adalah perguruan tinggi swasta, biayanya pun pasti udah terbayang di kepala.

Pertama kalinya saya mengikuti Ospek. Perlengkapan yang saya bawa tidak lengkap, malah saya melanggar beberapa rules yang sudah ditetapkan kakak pembina. Rules yang pertama, tidak diperbolehkan bawa motor. Rumah saya jauh dan disuruh berangkat jam 4 pagi ke kampus. Mau naik oplet, kernet dan sopirnya masih ngorok. Lagian saya juga malu naik angkot dengan dandanan norak seperti itu.

Akhirnya, saya diberhentikan layaknya kena tilang oleh kakak pembina yang agak jauh dari pagar kampus. Serta mendapat hukuman dan foto gratis dari kakak-kakak seksi dokumentasi. Untung saya Ospek di zaman kamera DSLR mulai booming. Jadinya, foto saya terdokumentasi dengan baik.

Kegiatan Ospek telah saya lewati. Ada yang seru, seru banget, biasa, dan biasa banget. Yang seru adanya games ala-ala catwalk tapi modelnya para cowok dengan pakaian cewek (saat itu belum mengenal LGBT). Yang seru banget adalah acara musik di hari akhir Ospek. Seru banget karena saya tampil sebagai gitaris membawakan lagu Topeng- Peterpan dengan diiringi sing along dari penonton.

Dengan lobang hidung yang gede, saya berhasil menjadi Uki Noah.

Menginjak semester pertama, dimana awalnya mahasiswa belajar di kelas. Aktivitas ini membosankan bagi saya. Enaknya, saya menemukan teman-teman yang kompak disini. Sebagian besar cowoknya kelakuannya sama seperti saya. Kalau dosen nggak datang padahal baru nunggu 5 menit, kita kompak untuk meninggalkan kampus. Ngerjain tugas pun begitu, kita kompak untuk membagikan jawaban. Sampai ngontrak semester dua pun kita saling pegangan tangan agar tidak beda kelas nantinya.

(Maaf, nggak ada foto lain)

Timeskip, hari-hari yang seru sudah saya rasakan di kampus. Di semester 7-8 kita udah mulai berpisah. Ada yang lulus dan ada yang belum. Saya termasuk yang belum lulus. Dikelas kondisinya udah berubah karena saya tidak menemukan teman-teman yang dulu. Yang ada saya malah di cuekin adik-adik tingkat yang sekelas dengan saya. Saya dianggap terlalu tua untuk bergaul dengan mereka.

Selama saya di kampus, saya tidak punya pengalaman berorganisasi di BEM maupun UKM. Pengalaman saya hanyalah berkarya. Mulai menginjak kuliah, saya mulai berkarya dari hasil pelajaran yang saya dapat di kampus. Ngeblog, Desain Grafis, dan Mutimedia adalah makanan saya sehari-hari dibanding coding, analisa pemrograman dan robotik. Yang membanggakan, saya pernah memberikan materi hasil karya saya ke calon mahasiswa.


Sulitnya skripsi saya hadapi. Akhirnya, di tahun 2015 saya lulus dengan IPK uncumlaude.


Di perkuliahan, kita belajar menyikapi diri kita sendiri. Kebebasan hadir dengan mempertimbangkan konsekuensi yang akan dihadapi. Belajar untuk mandiri dan dewasa. Tapi nggak gampang juga, bersiaplah untuk menghadapi tugas-tugas yang berat serta skripsi yang membuat paksa otak untuk berpikir dan badan untuk produktif.

Dari keseluruhan, itulah asiknya kuliah. Apalagi jika berhasil membuat sebuah karya yang membanggakan kampus. Ah, rasanya pengen balik lagi ke zaman kuliah dengan belajar dan berkarya daripada menyibukkan diri melihat lowongan dan membuat lamaran.

Menganggur itu ada enaknya juga, karena kemungkinan Tuhan mempersiapkan jalan lain untuk sukses. 
Amin.


Jumat, 11 Maret 2016

Bukan Penduduk Jakarta, Jangan Bela Ahok!


Sering kali saya share soal Ahok di sosial media. Berbagai komentar pun hadir, ada yang membela, mencela, atau sekedar menyimak. Namun yang jadi perhatian, sebuah komentar yang pernah dilontarkan ke saya adalah...
"Jangan bela-bela Ahok, lu bukan orang Jakarta!" 
Saya memang nggak bisa membantah. Memang iya, lagian ngapain sih saya belain Ahok. Toh, saya kan bukan orang Jakarta. Saya nggak tinggal di Jakarta. Saya juga tidak pernah ketemu Ahok atau sebaliknya. Ngapain juga saya berkoar-koar belain Ahok.

Namun komentar itu lebih baik daripada komentar lain yang menjauhi Ahok karena masalah Agama, Ras, dan Budaya. Positifnya, komentar itu juga mengajari saya untuk lebih perhatian ke pemimpin daerah sendiri.

Tapi, pemimpin daerah saya masih baru, jadi belum terlihat kinerjanya.

Lagian salah Ahok, kenapa Ahok terus muncul di televisi saya. Muncul terus memang nggak apa-apa, tapi kenapa Ahok itu konfliknya bagus, musuhnya banyak, hingga saya seperti nonton Film dan Ahok adalah tokoh utamanya. Ahok sebagai tokoh utama karena dia adalah yang paling beda.

Dia seorang minoritas yang melawan musuh-musuhnya yang menyombongkan diri sebagai mayoritas. Dia adalah minoritas yang berhasil menjadi pemimpin. Dia mempunyai misi untuk daerahnya, namun musuhlah yang jadi penghalang. Dia keras, menggambarkan tokoh utama yang marah terhadap musuh-musuhnya demi keberhasilan misinya. Tujuannya juga tidak dianggap baik oleh sebagain orang.

Ditambah lagi akhir-akhir ini media meliput beberapa bakal calon gubernur DKI. Tapi dengan tagline "Ingin mengalahkan Ahok". Semakin seru saja cerita di pemerintahan Jakarta. Saya jadi ingin lebih tahu konflik dan ending ceritanya Ahok gimana.

Sepertinya saya menonton Film yang salah. Tapi itu lebih baik jika ditonton dengan keadaan tenang dan nyaman. Namun yang bikin saya tidak tenang dan nyaman adalah disaat kemarin twitter heboh dengan tagar #UsirAhokDariJakarta .
Saya memang bukan tinggal di Jakarta, tapi saya tidak ingin usir Ahok dari Jakarta. Ngapain usir-usir, saya juga nggak pernah ngerasain kinerja Ahok, kok. Biarlah Jakarta dengan urusannya, saya hanya bisa mengaguminya saja di televisi.
(Gambar Ahok dari m.tempo.co)

Rabu, 09 Maret 2016

Rumah Baru


Kemarin (6 Maret 2016), saya telah membangun rumah baru. Bukan rumah asli ataupun rumah-rumahan, kata "Rumah" saya gunakan untuk pengandaian saja. Karena saya tidak punya uang untuk membangun rumah. Rumah baru yang saya maksud adalah blog baru ini.

Saya punya blog lama yang diberi nama Catatan Madz. Blog tersebut adalah blog yang paling lama dikelola seperti yang saya sebutkan di kanal Tentang Saya. Iya, blog itu telah berdiri dari tahun 2011. Blog itu juga menjadi wadah untuk menunjukkan ekspresi, karya, dan perjalanan yang saya alami. Banyak sudah kenangan di blog itu. Tapi sayang, blog itu tidak saya update lagi setelah pilpres tahun 2014. Jadi bisa dibilang, blog itu berhenti sebelum Jokowi dilantik jadi presiden. 

Hal itu dikarenakan saya yang lagi sibuk berkarya di Instagram dengan mengasah kemampuan baru dalam membuat video. Berkarya dengan cara dan hal berbeda tentunya menimbulkan "addict"  tersendiri. Seringnya membuat konten di Instagram membuat saya merasa menjadi manusia yang tidak adil dan tidak bertanggung jawab. Saya tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah saya buat dulunya (blog) dengan tidak mempedulikannya sama sekali dan lebih mementingkan dengan yang baru. 

Maka dari itu, saya takut menjadi orang yang mudah berpoligami. 

Saya memutuskan untuk melanjutkan aktifitas menulis. Maka dari itu saya membuat blog baru ini dengan domain yang tidak main-main. Kenapa harus membuat blog yang baru? Setelah dipertimbangkan, ada beberapa hal yang membuat saya ingin membangun blog baru.

1. Perubahan usia dan materi 

Semakin bertambahnya usia seseorang, maka materi yang dihidangkan pun akan berbeda. Itulah yang membuat pola pikir manusia akan membuatnya semakin dewasa. Saya mengalami fase itu untuk saat ini. Kalau dilihat dari blog lama, sepertinya saya merasa kurang cocok lagi dengan materi yang sudah saya hibahkan ke blog lama. Materi blog lama diperuntukan untuk pembaca remaja dan yang tua tapi suka dengan remaja. Eh, maksudnya yang tua tapi berjiwa remaja. 

2. Kepentingan profesionalitas

Saya sedang menganggur, saya ingin mendapatkan pekerjaan yang saya sukai (khususnya dalam bidang menulis). Di blog baru ini, saya ingin menampilkan berbagai portofolio dan bentuk tulisan yang dibutuhkan orang-orang. Kalau di blog lama dijadikan blog profesional, mungkin bisa saja saya menjadi penulis dengan gaya tulisan yang sama. Tapi, itu bukan keinginan saya. Biarlah Raditya Dika yang begitu.

3. Menguji ketahanan berkarya

Salah satu tujuan saya membeli domain blog ini adalah untuk menguji ketahanan berkarya. Biaya untuk membeli domain bisa dibilang cukup mahal bagi saya. Resikonya, saya akan rugi jika meninggalkan blog ini dan menjauh dari kegiatan menulis.

...

Buat pembaca yang hadir, saya mengucapkan selamat datang di blog baru saya. Semoga dengan blog ini, saya dapat menghadirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Dan tak lupa, ucapan terima kasih untuk Nurvita yang mau direpotin ketika saya memesan domain. Serta untuk Irvina yang rela mengedit tulisan saya. Semoga tidak ada pungutan dalam bentuk imbalan.

Saya lagi kere, maklum pengangguran.  
(Gambar Rumah dari rumahminimalismewah.com)